Payung Madinah Megah Berdiri, Tapi Rakyat Masih Berteduh di Gubuk Nyaris Roboh , Kemiskinan Ekstrem di Kota Pasuruan Disorot Keras
Pasuruan,Kabar99news.com, —Di tengah kemegahan pembangunan ikon kota seperti Payung Madinah yang berdiri megah sejak tahun 2022 di jantung Kota Pasuruan, ironi pahit justru terpampang jelas di sudut lain kota. Seorang warga lanjut usia, Tri Gandung Warsito (61), harus bertahan hidup di rumah yang kondisinya nyaris roboh dan jauh dari kata layak huni.
Pria yang sehari-hari bekerja sebagai pencari kayu bakar itu tinggal di sebuah bangunan rapuh di Kelurahan Randusari, RT 03 RW 01, Kecamatan Gadingrejo, Kota Pasuruan. Kondisi rumahnya memantik perhatian publik setelah potret kemiskinan ekstrem tersebut viral di media sosial dan menuai kritik tajam dari berbagai pihak.
Merespons kondisi tersebut, Wakil Gubernur Lumbung Informasi Rakyat (LIRA) Jawa Timur, Ayi S.H, bersama Abdul Aziz dan Zainul Jidoor turun langsung ke lokasi pada Sabtu (16/05/2026) untuk memastikan kondisi sebenarnya.
Saat meninjau langsung rumah Warsito, rombongan dibuat terkejut. Bangunan yang ditempati sejak tahun 1989 itu terlihat sangat memprihatinkan. Dinding bata banyak yang retak, plesteran mengelupas, dan sebagian struktur tampak rapuh dimakan usia.
Di dalam rumah, ruang tamu merangkap sebagai kamar tidur dengan lantai semen seadanya. Sementara bagian belakang rumah masih berupa tanah. Kondisi paling parah terlihat pada bagian atap kamar yang sudah ambruk sejak sekitar satu tahun lalu.
Agar tetap bisa berteduh dari panas dan hujan, Warsito terpaksa menutup bagian atap yang rusak menggunakan triplek bekas serta potongan banner iklan yang dipasang seadanya.
Tak hanya itu, rumah yang berada di wilayah perkotaan tersebut bahkan tidak memiliki fasilitas MCK yang layak. Kamar mandi yang ada hanya berupa ruangan sempit berlumut tanpa jamban. Akibatnya, keluarga ini terpaksa buang air besar di sungai yang berada tidak jauh dari rumahnya.

Melihat kondisi yang disebutnya “lebih mirip kandang daripada rumah”, Ayi Suhaya S.H tidak mampu menahan kekecewaannya. Ia melontarkan kritik keras kepada Wali Kota Pasuruan,Adi Wibowo, baik pihak eksekutif maupun legislatif, yang dianggap abai terhadap penderitaan rakyat kecil.
Menurutnya, sangat ironis ketika kota memiliki simbol pembangunan yang megah seperti Payung Madinah, tetapi di sisi lain masih ada warga yang hidup dalam kondisi rumah hampir roboh.
“Di satu sisi kota punya bangunan megah yang dibanggakan, tapi di sisi lain ada warga yang tinggal di rumah nyaris runtuh. Ini potret nyata ketimpangan. Wali Kota dan DPRD harus membuka mata. Jangan pura-pura tidak tahu,” tegasnya.
Ia juga menyinggung besarnya Sisa Lebih Pembiayaan Anggaran (Silpa) Kota Pasuruan yang mencapai sekitar Rp95,37 miliar. Menurutnya, anggaran sebesar itu seharusnya bisa dialokasikan untuk program perbaikan rumah tidak layak huni melalui dinas terkait.
“Kalau ada Silpa puluhan miliar, seharusnya bisa digeser untuk program bedah rumah. Jangan sampai anggaran daerah justru lebih banyak habis untuk kegiatan seremonial yang tidak menyentuh kebutuhan rakyat kecil,” katanya.
Lebih jauh, Lumbung Informasi Rakyat Jawa Timur juga menilai fungsi pengawasan legislatif di Kota Pasuruan belum berjalan maksimal. Padahal, menurutnya, kondisi warga seperti Warsito seharusnya sudah lama terdeteksi dan ditangani.
Ia bahkan menegaskan bahwa jika pemerintah daerah tidak mampu menghadirkan kebijakan yang benar-benar berpihak kepada masyarakat miskin, maka pejabat terkait seharusnya berani melakukan evaluasi diri.
Sebagai langkah lanjutan, pihak LIRA menyatakan akan menyampaikan laporan resmi kepada Pemerintah Provinsi Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa, hingga pemerintah pusat. Mereka berharap perhatian serius diberikan terhadap persoalan kemiskinan ekstrem yang masih terjadi di Kota Pasuruan.
Kasus rumah Warsito kini menjadi cermin keras bagi wajah pembangunan kota: di balik kemegahan ikon dan proyek besar, masih ada warga yang berjuang bertahan hidup di rumah yang bahkan nyaris tak pantas disebut tempat tinggal.(Adf)

