Ayik Suhaya Murka! Wagub LIRA Jatim Ayi Suhaya Sentil Wali Kota Adi Wibowo dan DPRD Usai Temukan Gubuk Nyaris Roboh di Kota Pasuruan
Pasuruan,Kabar99news.com,— Di tengah wajah pembangunan Kota Pasuruan yang terus dipoles, sebuah potret memilukan justru muncul dari sudut kota. Nasib Tri Gandung Warsito (61), buruh tukang kayu yang hidup dalam gubuk hampir roboh di Kelurahan Randusari, Kecamatan Gadingrejo, mendadak viral dan memantik kemarahan publik. Kondisi ini seolah menjadi tamparan keras bagi pemerintahan di bawah kepemimpinan Adi Wibowo.
Warsito diketahui sudah puluhan tahun tinggal di rumah sederhana yang kondisinya kini jauh dari kata layak. Bangunan yang berdiri sejak sekitar 1989 itu kini nyaris runtuh. Dinding batanya retak dan rapuh, sebagian plester telah mengelupas, sementara lantai rumah masih berupa semen kasar dan tanah.
Kondisi semakin memprihatinkan di bagian kamar. Atap yang lapuk dimakan usia ambruk sejak sekitar setahun lalu. Untuk bertahan dari panas dan hujan, Warsito hanya menutup bagian atas rumahnya dengan potongan triplek bekas serta banner iklan yang dipasang seadanya.
Di dalam rumah itu pula, keluarga Warsito harus menjalani kehidupan yang jauh dari standar kelayakan. Tidak ada fasilitas Mandi, Cuci, Kakus (MCK) yang memadai. Kamar mandi yang ada hanya ruangan kecil berlumut tanpa jamban, sehingga keluarga tersebut terpaksa buang air besar di sungai terdekat.
Kondisi tragis ini akhirnya mendapat perhatian dari Wakil Gubernur Lumbung Informasi Rakyat (LIRA) Jawa Timur, Ayi Suhaya, yang turun langsung bersama Abdul Aziz dan Zainul Jidoor untuk melihat kondisi di lokasi pada Sabtu (16/05/2026).
Saat melihat langsung kondisi rumah tersebut, Ayi Suhaya mengaku geram. Ia menyebut situasi tersebut sebagai bukti nyata kemiskinan ekstrem yang terjadi di jantung Kota Pasuruan namun seolah luput dari perhatian pemerintah daerah.
Menurutnya, kondisi rumah Warsito bahkan lebih mirip kandang ternak daripada tempat tinggal manusia. Ia mempertanyakan kepekaan pemerintah kota terhadap penderitaan warga miskin yang sudah bertahun-tahun hidup dalam kondisi memprihatinkan.
Ayi juga menyinggung besarnya Sisa Lebih Pembiayaan Anggaran (Silpa) Kota Pasuruan yang mencapai sekitar Rp95,37 miliar. Menurutnya, anggaran sebesar itu seharusnya bisa dimanfaatkan untuk program penanganan rumah tidak layak huni melalui Dinas Perumahan dan Kawasan Permukiman.
Ia menilai anggaran daerah tidak seharusnya hanya terserap untuk kegiatan seremonial atau agenda yang minim dampak langsung bagi masyarakat kecil. Baginya, kondisi rumah Warsito adalah bukti bahwa prioritas pembangunan masih belum menyentuh persoalan mendasar rakyat miskin.
Selain menyoroti pemerintah kota, Ayi juga menilai fungsi pengawasan legislatif di Kota Pasuruan tidak berjalan maksimal. Ia menyinggung keberadaan rumah dinas pimpinan DPRD yang lokasinya tidak jauh dari wilayah tersebut, namun kondisi warga sekitar justru luput dari perhatian.
Menurut Ayi, jika pemerintah kota tidak segera mengambil langkah konkret, kasus seperti ini bisa menjadi bom sosial yang memperlihatkan jurang antara pembangunan kota dan realitas kemiskinan warganya.
Ia bahkan menyatakan akan mendorong agar persoalan ini sampai ke tingkat provinsi hingga pusat. Nama Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa serta Presiden RI Prabowo Subianto disebut perlu mengetahui langsung kondisi yang terjadi di Kelurahan Randusari.
Bagi banyak pihak, kisah Warsito bukan sekadar cerita kemiskinan biasa. Ia menjadi simbol bahwa di balik geliat pembangunan kota, masih ada warga yang bertahan hidup di rumah yang hampir runtuh menunggu perhatian yang selama ini tak kunjung datang.(Adf)

