Sanksi Tak Manusiawi di SMPN 3 Purwodadi: 4 Siswa Dipaksa Menelan Puntung Rokok hingga Muntah, Trauma dan Kabur Dua Hari

Ba8bbab3 3888 41b8 9277 1ae3371b8e23

Pasuruan,Kabar99news.com,– Dugaan tindakan disiplin yang tidak manusiawi terjadi di SMPN 3 Purwodadi, Desa Sentul, Kabupaten Pasuruan. Empat siswa dilaporkan mendapat hukuman ekstrem setelah kedapatan merokok di kantin sekolah pada Sabtu, 7 Maret 2026. Bukannya diberi pembinaan, para siswa justru diduga dipaksa menelan puntung rokok oleh oknum guru hingga mengalami muntah-muntah.

Peristiwa tersebut memicu kemarahan dan keprihatinan dari orang tua murid. Hukuman yang dianggap sudah melampaui batas itu membuat keempat siswa mengalami trauma berat hingga takut kembali ke sekolah.

Menurut informasi yang dihimpun, kejadian bermula saat empat siswa kedapatan merokok di area kantin sekolah. Oknum guru yang menangani pelanggaran tersebut kemudian memberikan sanksi yang dinilai tidak pantas. Para siswa diperintahkan memasukkan dan menelan puntung rokok yang sudah digunakan. Akibatnya, mereka mengalami mual hebat hingga muntah di lokasi.

Tidak hanya berdampak secara fisik, hukuman tersebut juga meninggalkan luka psikologis yang dalam. Beberapa hari setelah kejadian, tepatnya pada Rabu, keempat siswa tersebut dilaporkan pergi dari rumah dan tidak kembali.

Kepanikan langsung menyelimuti keluarga masing-masing siswa. Para orang tua bersama warga dan teman sekolah berusaha mencari keberadaan anak-anak tersebut ke berbagai tempat. Namun selama dua hari dua malam, keberadaan mereka tidak diketahui.

Setelah pencarian panjang, keempat siswa akhirnya ditemukan di kawasan Alun-Alun Sidoarjo dalam kondisi memprihatinkan. Mereka diduga berjalan kaki selama dua hari tanpa tujuan yang jelas. Saat ditemukan, kondisi mereka lemah, kelaparan, bahkan kaki mereka terlihat bengkak akibat kelelahan.

Peristiwa ini membuat keluarga semakin terpukul. Trauma yang dialami para siswa disebut membuat mereka enggan kembali ke sekolah.

Orang tua murid kemudian mendatangi pihak sekolah untuk meminta penjelasan. Kepala sekolah Imam menyatakan tidak mendukung tindakan disiplin yang dilakukan oknum guru tersebut karena dinilai sudah di luar batas kewajaran dalam dunia pendidikan.

Saat dilakukan klarifikasi internal, dua oknum guru berinisial FM dan BD disebut mengakui telah memberikan hukuman tersebut kepada para siswa.

Kini keluarga korban menuntut pertanggungjawaban dari pihak sekolah untuk memulihkan kondisi mental dan psikologis anak-anak mereka. Mereka juga meminta adanya tindakan tegas terhadap oknum guru yang terlibat.

Salah satu orang tua siswa, Tukaji, menegaskan bahwa pihaknya tidak akan tinggal diam jika tidak ada penyelesaian yang adil.

“Anak saya sekarang trauma dan tidak mau sekolah lagi. Kalau tidak ada tanggung jawab yang jelas, kami para orang tua sepakat akan membawa kasus ini ke jalur hukum,” tegasnya.

Kasus ini memunculkan sorotan serius terhadap metode disiplin di lingkungan pendidikan. Banyak pihak menilai, pendidikan seharusnya mengedepankan pembinaan, bukan hukuman yang merendahkan martabat dan membahayakan kesehatan siswa.

Hingga saat ini, para orang tua berharap ada langkah nyata dari pihak terkait, termasuk dinas pendidikan, agar kejadian serupa tidak terulang di sekolah manapun.(Adf)

Leave a Reply