Khofifah Turun Langsung Tangani Karhutla Tahura Soerjo, 92 Titik Panas Terdeteksi dan 10 Kilometer Pipa Air Rusak

E54402f7 7f27 45c0 b87b e769ec3deb19

Pasuruan,Kabar99news.com,– Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di kawasan Taman Hutan Raya (Tahura) Raden Soerjo, Kabupaten Pasuruan, menjadi perhatian serius Pemerintah Provinsi Jawa Timur. Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa turun langsung ke posko penanganan kebakaran di Hutan Cempaka, Desa Dayurejo, Kecamatan Prigen, Selasa (20/10/2026) malam.

Dalam kunjungan tersebut, Khofifah memimpin rapat koordinasi bersama jajaran terkait untuk memastikan penanganan kebakaran berjalan efektif. Ia menegaskan, keselamatan petugas dan relawan tidak boleh dikorbankan dalam upaya memadamkan api, terlebih medan pegunungan yang terjal serta perubahan arah dan kecepatan angin dapat memicu bahaya sewaktu-waktu.

“Yang harus kita lakukan sekarang adalah meningkatkan kewaspadaan dan kehati-hatian para relawan,” tegas Khofifah.

Peringatan itu disampaikan menyusul insiden kebakaran di kawasan Gunung Bromo yang menelan lima korban jiwa, sementara satu orang lainnya masih menjalani perawatan di RSUD Dr. Soetomo Surabaya. Khofifah menyampaikan belasungkawa dan memastikan biaya perawatan korban menjadi tanggungan Pemerintah Provinsi Jawa Timur.

Menurutnya, setiap operasi pemadaman harus memperhitungkan kondisi medan, arah angin, perkembangan api, kesiapan perlengkapan keselamatan, serta komunikasi antartim. Koordinasi dengan Manggala Agni, Masyarakat Peduli Api, pemerintah desa, kecamatan, TNI, dan Polri juga dinilai penting untuk mengurangi risiko di lapangan.

92 Titik Panas Masih Terdeteksi

Ancaman kebakaran di kawasan Tahura Raden Soerjo belum sepenuhnya mereda. Berdasarkan laporan yang disampaikan dalam rapat koordinasi, masih terdeteksi 92 titik panas atau hotspot di kawasan tersebut.

Dinas Kehutanan Provinsi Jawa Timur mencatat sebanyak 493 personel gabungan terlibat dalam penanganan karhutla selama periode 13–19 Oktober 2026. Mereka berasal dari unsur Polisi Kehutanan, Manggala Agni, BPBD, Polri, penyuluh kehutanan, Masyarakat Peduli Api, relawan, dan warga setempat.

Khofifah mengapresiasi kerja keras seluruh personel. Namun, ia mengingatkan bahwa dukungan terhadap petugas harus diwujudkan melalui ketersediaan logistik, peralatan, layanan kesehatan, serta waktu istirahat yang memadai.

Pemerintah Provinsi Jawa Timur juga telah mengomunikasikan permohonan bantuan helikopter untuk melakukan pemadaman melalui udara atau water bombing. Langkah tersebut diharapkan dapat mempercepat penanganan titik-titik kebakaran yang sulit dijangkau melalui jalur darat.

Kebakaran Berdampak pada Pasokan Air Bersih Warga

Dampak karhutla tidak hanya mengancam kelestarian hutan, tetapi juga mengganggu kebutuhan dasar masyarakat di desa-desa sekitar kawasan Tahura.

Laporan penanganan mencatat sebanyak 10.260 meter jaringan pipa air bersih terdampak atau rusak di tiga desa penyangga di Kabupaten Pasuruan. Rinciannya, 4.000 meter di Desa Tambaksari, 3.750 meter di Desa Jatiarjo, dan 2.510 meter di Desa Dayurejo.

Kondisi tersebut membuat pemulihan jaringan distribusi air bersih menjadi salah satu prioritas penanganan. Khofifah menyatakan, pemerintah harus menyiapkan langkah jangka pendek sekaligus solusi jangka panjang agar masyarakat tidak terus bergantung pada bantuan air.

Untuk kebutuhan mendesak, distribusi air bersih akan diupayakan melalui pengiriman menggunakan mobil tangki. Sementara itu, pengeboran sumur dan pemanfaatan sumber air yang dapat dialirkan melalui jaringan pipa menjadi alternatif untuk menjamin pasokan secara berkelanjutan.

Pemerintah Kabupaten Pasuruan disebut telah memetakan titik-titik jaringan pipa yang terdampak sebagai dasar penanganan selanjutnya.

“Intinya, pemenuhan kebutuhan air bersih masyarakat semaksimal mungkin kita ikhtiarkan agar bisa terpenuhi,” ujar Khofifah.

Ia juga mengingatkan pentingnya menjaga vegetasi di sekitar mata air dan kawasan tangkapan air. Kerusakan pada wilayah tersebut berpotensi mengganggu fungsi tata air yang menjadi penopang kehidupan masyarakat.

Terbitkan Surat Edaran Salat Istisqa

Di tengah ancaman kebakaran dan kekeringan, Khofifah turut mengajak masyarakat memperkuat ikhtiar spiritual melalui pelaksanaan salat istisqa, yakni salat untuk memohon turunnya hujan.

Ajakan tersebut dituangkan dalam Surat Edaran Gubernur Jawa Timur Nomor 400.8.1/37860/011.2/2026 tentang Pelaksanaan Salat Istisqa, yang ditetapkan di Surabaya pada 20 Oktober 2026.

Surat edaran itu ditujukan kepada bupati dan wali kota se-Jawa Timur, pimpinan organisasi kemasyarakatan Islam, serta pimpinan pondok pesantren. Pelaksanaannya diharapkan menjangkau tingkat kabupaten/kota, kecamatan, hingga desa dan kelurahan, khususnya wilayah yang mengalami kekeringan.

Khofifah menyebut, hingga awal Oktober 2026, sebanyak 25 kabupaten/kota telah menetapkan status kedaruratan kekeringan. Karena itu, ia meminta seluruh pihak memperkuat doa bersama, memperbanyak istigfar dan sedekah, serta menjaga penggunaan air secara bijak.

Meski demikian, upaya spiritual tersebut tetap harus berjalan beriringan dengan langkah konkret pemerintah dalam membantu masyarakat terdampak.

Berdasarkan prediksi Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) yang disampaikan dalam rapat, hujan diperkirakan turun pada periode Desember 2026 hingga Februari 2027. Kondisi tersebut membuat mitigasi kebakaran dan kekeringan perlu terus diperkuat sembari menunggu perubahan cuaca.

Tahura Soerjo Harus Diselamatkan

Tahura Raden Soerjo memiliki luas 27.868,30 hektare, membentang di enam kabupaten/kota, serta didukung keberadaan 57 desa penyangga. Kawasan ini memiliki peran penting dalam menjaga keanekaragaman hayati, menyimpan karbon, dan melindungi sumber daya air.

Karena itu, penanganan karhutla tidak cukup hanya dengan memadamkan api. Setelah kondisi dinyatakan aman, evaluasi kerusakan dan pemulihan ekosistem perlu dilakukan, terutama pada kawasan yang berfungsi sebagai daerah tangkapan air.

Khofifah juga mengingatkan masyarakat agar tidak melakukan pembakaran di dalam maupun sekitar kawasan hutan, mematuhi pembatasan akses, serta segera melaporkan apabila menemukan api atau asap. Keterlibatan warga dalam upaya pemadaman harus tetap berada di bawah koordinasi petugas dan didukung perlengkapan keselamatan yang sesuai.

Rapat koordinasi tersebut dihadiri Bupati Pasuruan, Kapolres Pasuruan, Kepala Divisi Regional Perum Perhutani Jawa Timur, Kepala Balai Penegakan Hukum Kehutanan Wilayah Jawa, Bali, dan Nusa Tenggara, jajaran BPBD Provinsi Jawa Timur dan Kabupaten Pasuruan, pengelola Tahura Raden Soerjo, serta unsur TNI, Polri, dan pemerintah Kecamatan Prigen.

Khofifah menegaskan, keselamatan manusia, perlindungan warga, dan keberlanjutan sumber air harus menjadi prioritas bersama dalam menghadapi bencana karhutla.

“Yang kita perjuangkan adalah keselamatan manusia dan keberlanjutan kehidupan. Petugas harus terlindungi, warga harus aman, dan sumber air harus tetap terjaga,” pungkasnya.(Adf)

Leave a Reply