Bukan Kewenangan Pemkot, Wali Kota Pasuruan Tempuh Jalur Koordinasi, Kendaraan Berat Mulai Dialihkan ke Tol

22b55dd4 d683 40ce 985b 24399de4347a

Pasuruan,Kabar99news.com, – Polemik kemacetan yang muncul akibat penutupan total Jalan Ir. H. Juanda untuk proyek peninggian Jembatan Buk Wedi akhirnya mulai menemukan solusi. Pemerintah Kota Pasuruan bersama sejumlah instansi terkait menyepakati pengalihan kendaraan berat ke jalan tol guna mengurangi kepadatan lalu lintas di dalam kota.

Kebijakan tersebut merupakan hasil koordinasi antara Pemerintah Kota Pasuruan, Polres Pasuruan Kota, Dinas Perhubungan Jawa Timur, Balai Besar Pelaksanaan Jalan Nasional (BBPJN) Jawa Bali, Jasa Marga, serta pihak pelaksana proyek perbaikan Jembatan Buk Wedi.

Wali Kota Pasuruan, Adi Wibowo, menegaskan bahwa seluruh kendaraan bertonase besar, baik yang datang dari arah Surabaya maupun Probolinggo, diarahkan menggunakan akses jalan tol sehingga tidak lagi melintasi jalur perkotaan yang saat ini mengalami beban lalu lintas tinggi.

Langkah tersebut sekaligus menjawab berbagai aspirasi masyarakat dan sejumlah aktivis serta Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) yang sebelumnya meminta agar kendaraan berat dialihkan ke jalan tol untuk mengurangi kemacetan di Jalur Lingkar Selatan (JLS).

Meski demikian, dampak kepadatan arus kendaraan diperkirakan masih akan berlangsung selama proses pembangunan Jembatan Buk Wedi belum selesai. Penutupan total ruas Jalan Ir. H. Juanda membuat seluruh arus kendaraan Pantura harus dialihkan melalui JLS sehingga meningkatkan volume kendaraan secara signifikan.

Beberapa titik yang dinilai paling rawan terjadi antrean kendaraan di antaranya Jalan Gatot Subroto yang menjadi simpul utama pengalihan arus dari arah barat, kawasan Pertigaan Blandongan dekat Terminal Baru yang mengalami penyempitan jalur, hingga ruas Jalan KH Hasyim Asy’ari dan Jalan Untung Suropati yang kini menjadi jalur utama kendaraan pengganti Pantura.

Aktivis dan penggiat sosial Kota Pasuruan, R. Tjahjono atau yang akrab disapa Yono, menilai kemacetan tidak hanya dipicu oleh meningkatnya volume kendaraan, tetapi juga kondisi jalan di sepanjang JLS yang mulai mengalami kerusakan.

Menurutnya, permukaan jalan yang bergelombang dari kawasan Blandongan hingga Jalan KH Hasyim Asy’ari memperlambat laju kendaraan sehingga antrean semakin panjang. Ia juga menyoroti masih adanya sejumlah truk besar dan kendaraan kontainer yang tetap memasuki jalur kota meskipun telah diberlakukan pengalihan ke jalan tol.

Yono menjelaskan bahwa pengelolaan, pemeliharaan, hingga rekayasa lalu lintas di Jalur Lingkar Selatan bukan berada di bawah kewenangan Pemerintah Kota Pasuruan karena statusnya merupakan jalan nasional. Oleh sebab itu, setiap kebijakan harus melalui koordinasi lintas instansi.

“Saya mengapresiasi langkah Wali Kota Pasuruan Adi Wibowo beserta jajarannya yang memilih menyelesaikan persoalan ini melalui koordinasi dengan seluruh pihak terkait. Langkah tersebut strategis, sesuai kewenangan, dan menunjukkan kepemimpinan yang mengutamakan solusi,” ujarnya.

Ia menambahkan bahwa seorang pemimpin yang kompeten tidak akan menghindari kritik maupun pengawasan selama setiap kebijakan diambil sesuai aturan yang berlaku.

Di akhir penyampaiannya, Yono juga mengingatkan pentingnya menyampaikan kritik secara santun dan konstruktif.

“Kritik akan lebih mudah diterima apabila disampaikan dengan cara yang elegan. Setiap orang bebas mengkritik, namun pilihan cara menyampaikannya akan menentukan apakah kritik tersebut menjadi masukan yang membangun atau justru hanya menjadi bahan perdebatan tanpa solusi.”

Dengan diberlakukannya pengalihan kendaraan berat ke jalan tol, diharapkan beban lalu lintas di dalam Kota Pasuruan dapat berkurang sehingga mobilitas masyarakat tetap berjalan lebih lancar selama proses pembangunan Jembatan Buk Wedi masih berlangsung.(Adf)

Leave a Reply