Buket Bunga “Bela Sungkawa” Dikirim ke Balai Kota Pasuruan, GM-FKPPI Sindir Keras Pemangkasan Bonus Atlet
Pasuruan,Kabar99news.com, – Aksi unjuk rasa yang digelar di depan kantor Wali Kota Pasuruan berlangsung dengan cara tak biasa. Massa tidak membawa karangan bunga sebagai tanda penghormatan, melainkan sebuah buket bunga berisi tulisan bernada kritik tajam yang ditujukan langsung kepada pimpinan daerah.Senin (02/02/2026)
Buket bunga seperti terlihat dalam aksi tersebut memuat tulisan “Ucapan Bela Sungkawa” kepada Wali Kota, Kepala Dinas Pemuda dan Olahraga, serta Ketua KONI Kota Pasuruan. Pesan itu menjadi simbol kekecewaan atas kebijakan pemangkasan bonus atlet Porprov Jatim 2025 yang dinilai melukai rasa keadilan para pejuang olahraga.
Puluhan peserta aksi yang terdiri dari atlet, aktivis, dan elemen masyarakat menilai kebijakan efisiensi anggaran telah mengorbankan mereka yang justru membawa prestasi bagi daerah. Suasana sempat memanas, diwarnai orasi dan aksi teatrikal yang menggambarkan beratnya perjuangan atlet dibandingkan penghargaan yang diterima.
Ketua GM-FKPPI, Ayi Suhaya, turun langsung memimpin aksi. Ia menyebut pemberian buket bunga tersebut sebagai bentuk sindiran moral kepada pemerintah kota.
“Ini bukan sekadar bunga. Ini simbol bahwa kepedulian terhadap atlet terasa mati. Mereka berjuang mati-matian di lapangan, tapi penghargaan justru dipangkas,” tegasnya.
Penurunan Bonus Dinilai Tidak Rasional
Massa mempersoalkan besaran bonus yang turun drastis dibandingkan tahun sebelumnya:
• Medali emas dari Rp30 juta menjadi Rp10 juta
• Medali perak dari Rp20 juta menjadi Rp7,5 juta
• Medali perunggu dari Rp10 juta menjadi Rp5 juta
Para atlet menilai angka tersebut tidak sebanding dengan latihan bertahun-tahun, biaya pribadi, hingga pengorbanan fisik dan mental demi mengharumkan nama Kota Pasuruan.
Salah satu atlet menyampaikan bahwa mereka hanya menginginkan penghargaan yang layak atas perjuangan panjang yang telah dilalui.
Buket bunga yang diserahkan dalam aksi itu menjadi sorotan karena dimaksudkan sebagai kritik terbuka, bukan sekadar atribut demonstrasi. Massa menilai simbol tersebut mewakili perasaan atlet yang merasa tidak didengar.
Dalam aksi tersebut, wali kota maupun pejabat utama tidak hadir menemui massa secara langsung. Pernyataan sikap akhirnya diterima oleh perwakilan pemerintah, kondisi yang semakin memicu kekecewaan peserta aksi.
Massa mendesak agar pemerintah segera mengevaluasi kebijakan bonus dan membuka dialog dengan para atlet. Mereka berharap penghargaan terhadap prestasi tidak berhenti pada seremoni, tetapi diwujudkan melalui kebijakan yang adil dan berpihak pada mereka yang berjuang di arena.(Adf)

