HUT Kabupaten Pasuruan ke-1097, Ayik Suhaya Apresiasi Kinerja Rusdi Sutejo: Nilai 9, Tapi Jangan Cepat Puas
Pasuruan,Kabar99news.com,— Hari Jadi Kabupaten Pasuruan ke-1097 yang diperingati pada Jumat, 18 September 2026, menjadi momentum untuk melihat kembali perjalanan pembangunan sekaligus mengevaluasi kinerja pemerintahan daerah.
Di tengah momentum tersebut, Wakil Gubernur LIRA Jawa Timur sekaligus Ketua GM FKPPI, Ayik Suhaya, S.H., memberikan apresiasi terhadap kinerja Bupati Pasuruan Rusdi Sutejo selama kurang lebih dua tahun memimpin Kabupaten Pasuruan.
Ayik mengatakan, penilaiannya bukan sekadar berdasarkan informasi dari lingkungan pemerintahan. Ia mengaku melihat langsung kondisi di lapangan serta berkomunikasi dengan berbagai unsur masyarakat, mulai dari tokoh masyarakat, DPRD, organisasi kemasyarakatan hingga pemerintahan di tingkat desa.
“Saya melihat secara faktual. Saya juga turun ke bawah dan berkomunikasi dengan pimpinan masyarakat, DPRD, organisasi kemasyarakatan, sampai tingkat desa, termasuk kepala desa dan kepala dusun,” ujar Ayik.
Menurut Ayik, sejumlah program pemerintahan dan kebijakan daerah telah berjalan selama kepemimpinan Rusdi Sutejo. Ia menilai upaya tersebut patut mendapatkan apresiasi, terlebih pemerintah daerah juga harus menghadapi berbagai tantangan dalam menjalankan pembangunan.
Namun, apresiasi tersebut bukan berarti Pemkab Pasuruan boleh berhenti melakukan pembenahan.
Ayik justru meminta kinerja pemerintahan terus digenjot.
“Jangan puas dengan kepemimpinan yang menghasilkan kinerja bagus. Justru kinerja dan etos kerja itu harus terus ditingkatkan,” tegasnya.
Kepala Daerah Diminta Terbuka kepada Masyarakat
Selain menyoroti capaian pembangunan, Ayik menekankan pentingnya keterbukaan kepala daerah dalam menerima masyarakat yang ingin menyampaikan aspirasi.
Menurutnya, pintu komunikasi pemerintah harus terbuka bagi masyarakat, organisasi kemasyarakatan maupun kelompok lainnya.
“Kalau ada masyarakat menemui Pak Rusdi, teman-teman organisasi datang, atau siapa pun yang ingin menyampaikan kepentingannya, harus bisa ditemui dan dikomunikasikan,” katanya.
Bagi Ayik, kepemimpinan daerah tidak cukup hanya mengandalkan laporan birokrasi. Kepala daerah perlu mengetahui persoalan masyarakat secara langsung dengan turun ke lapangan dan mendengarkan berbagai aspirasi dari bawah.
Ia juga memahami bahwa pembangunan daerah tidak terlepas dari kebijakan pemerintah pusat. Salah satunya terkait efisiensi anggaran serta penyesuaian bantuan keuangan kepada daerah.
“Memang pembangunan ada yang kurang sedikit. Tetapi itu juga berkaitan dengan kebijakan pemerintah pusat. Ada pengurangan terkait bantuan keuangan dan lain-lain. Kondisi itu juga dialami gubernur, bupati, wali kota maupun pemerintah desa,” jelas Ayik.
Meski terdapat keterbatasan anggaran, Ayik menilai kondisi tersebut tidak boleh membuat pemerintah daerah kehilangan semangat untuk bergerak. Program yang berkaitan langsung dengan kepentingan masyarakat tetap harus menjadi perhatian.
Beri Nilai Rapor 9 untuk Rusdi Sutejo
Dalam penilaiannya terhadap kinerja Bupati Pasuruan, Ayik bahkan menyebut dirinya memberikan nilai rapor 9 sebagai bentuk apresiasi pribadi.
“Saya melihat kinerja Pak Bupati Rusdi Sutejo ini bagus. Kalau saya memberikan nilai rapor, saya kasih nilai 9. Ini penilaian saya berdasarkan apa yang saya lihat dan komunikasi saya dengan masyarakat,” ungkapnya.
Ayik juga sempat menyebut adanya daerah tetangga yang menurut pandangan pribadinya memiliki penilaian berbeda. Namun, ia kembali menegaskan bahwa angka tersebut merupakan penilaian subjektif dan bukan alasan bagi pemerintah Kabupaten Pasuruan untuk berpuas diri.
Menurutnya, capaian yang sudah ada justru harus menjadi pemicu untuk bekerja lebih keras pada tahun-tahun berikutnya.
Apresiasi Tetap Disertai Kontrol
Ayik menegaskan bahwa dukungan terhadap pemerintah daerah harus tetap berjalan beriringan dengan fungsi pengawasan.
Menurut dia, kritik bukan berarti bentuk penolakan terhadap pemerintah, melainkan bagian dari kontrol publik agar kebijakan yang dibuat tetap berada dalam koridor kepentingan masyarakat.
“Bukan berarti kita tidak mengawal. Tetap ada kritik-kritik yang membangun. Kalau ada kelemahan, kita sampaikan. Baik kepada Pak Bupati, wakil bupati, sekda, OPD, camat maupun kepala desa,” tegasnya.
Memasuki tiga tahun sisa masa kepemimpinan Rusdi Sutejo, Ayik berharap momentum Hari Jadi Kabupaten Pasuruan ke-1097 tidak berhenti sebagai seremoni tahunan.
Momentum tersebut, menurutnya, harus menjadi kesempatan untuk mengevaluasi berbagai kekurangan sekaligus memperkuat program yang sudah berjalan.
NGO, Tokoh Masyarakat hingga Pers Diminta Dilibatkan
Ayik juga mendorong agar Pemerintah Kabupaten Pasuruan semakin memperluas ruang partisipasi publik dalam penyusunan kebijakan.
Forum konsultasi publik, menurutnya, idealnya tidak hanya melibatkan unsur pemerintahan. NGO, organisasi kemasyarakatan, tokoh masyarakat, akademisi hingga insan pers juga perlu diberi kesempatan untuk menyampaikan gagasan dan kritik.
“Kalau ada forum konsultasi publik di mana pun, teman-teman NGO, tokoh-tokoh masyarakat, akademisi dan wartawan harus diundang. Diajak rembuk, diajak musyawarah, sehingga keputusan dan kebijakan yang dihasilkan benar-benar berpihak kepada rakyat,” katanya.
Ia berharap pola komunikasi tersebut dapat semakin diperkuat dalam tiga tahun mendatang.
Bagi Ayik, keberhasilan pembangunan tidak hanya diukur dari banyaknya program yang terlaksana, tetapi juga dari sejauh mana hasil pembangunan benar-benar dirasakan masyarakat.
“Jangan cepat puas. Kalau sudah mendapatkan apresiasi, justru harus semakin terpacu untuk bekerja lebih baik. Tiga tahun ke depan harus dimanfaatkan untuk meninggalkan legacy yang benar-benar dirasakan masyarakat Kabupaten Pasuruan,” tandasnya.
Ia menutup pernyataannya dengan menekankan bahwa seluruh kebijakan pemerintah pada akhirnya harus bermuara pada peningkatan kesejahteraan masyarakat.
“Intinya bagaimana membangun Kabupaten Pasuruan agar masyarakatnya sejahtera, lahir dan batin. Itu yang penting,” pungkas Ayik Suhaya.(Adf)

