Di Bawah Kepemimpinan Adi Wibowo, Rumah Nyaris Ambruk di Randusari Jadi Cermin Pahit ‘Pasuruan Anugrah
Pasuruan,Kabar99news.com, — Di tengah gaung besar slogan pembangunan “Pasuruan Anugrah” yang terus digaungkan Pemerintah Kota Pasuruan, sebuah kenyataan pahit justru terlihat jelas di sudut permukiman warga. Sebuah rumah tidak layak huni (RTLH) di Kelurahan Randusari, RT 03 RW 01, Kecamatan Gadingrejo, berdiri rapuh tanpa perhatian serius dari pemerintah.
Rumah tersebut milik Tri Gandung Warsito (61). Kondisinya sangat memprihatinkan dan jauh dari kata layak untuk dihuni. Sebagian atap rumah yang terbuat dari kayu tua sudah lapuk dimakan usia, bahkan ambruk sejak sekitar satu tahun lalu. Bagian kamar kini nyaris terbuka karena atapnya runtuh, menyisakan kerangka kayu yang mulai rapuh.
Ketika hujan turun, Warsito bersama istri dan anaknya terpaksa berpindah-pindah sudut rumah mencari tempat yang tidak bocor. Air hujan dengan mudah masuk ke dalam rumah karena sebagian atap kini sudah langsung menghadap langit.

Ironisnya, kondisi tersebut terjadi di tengah narasi pembangunan yang kerap disampaikan pemerintah kota di bawah kepemimpinan Adi Wibowo. Visi kesejahteraan masyarakat yang digadang-gadang untuk periode 2025–2030 seolah belum menyentuh sebagian warga yang hidup di pinggiran perhatian.
Warsito sendiri hanyalah seorang tukang kayu dengan penghasilan tidak menentu. Pendapatannya sehari-hari hanya cukup untuk memenuhi kebutuhan makan keluarga. Untuk memperbaiki rumah yang rusaknya sudah parah, ia mengaku tidak memiliki kemampuan finansial.

“Baru tahun ini saya dapat bantuan BLT. Tahun-tahun sebelumnya tidak pernah menerima bantuan apa pun,” ungkap Warsito kepada awak media, Selasa (12/05/2026).
Ia juga menuturkan bahwa rumahnya memang pernah mendapat bantuan bedah rumah, namun itu terjadi sekitar 12 tahun lalu. Seiring waktu, kondisi bangunan kembali memburuk. Ketika atap kamar roboh setahun lalu, ia sempat menerima bantuan dari BPBD, tetapi nilainya tidak cukup untuk memperbaiki kerusakan yang sudah menyeluruh.
Sementara itu, Lurah Randusari, Rudi Kurniawan, mengaku baru mengetahui kondisi tersebut setelah adanya laporan dari media. Ia berjanji akan segera turun langsung ke lokasi untuk memastikan keadaan rumah Warsito.
“Saya berterima kasih atas informasinya. Saya akan meninjau langsung karena memang saya masih baru menjabat di kelurahan ini,” ujarnya.
Namun penjelasan berbeda datang dari Pekerja Sosial Masyarakat (PSM) Kelurahan Randusari, Mutmainah. Ia mengatakan Warsito baru masuk dalam daftar penerima PKH pada tahun ini. Ia juga menyebut rumah yang pernah mendapat bantuan bedah rumah tidak bisa diajukan kembali.
Mutmainah bahkan mengklaim bahwa pihaknya telah mengusulkan rumah Warsito pada tahun lalu, tetapi pengajuan tersebut tidak terealisasi oleh dinas terkait.
Pernyataan tersebut justru berseberangan dengan pengakuan Warsito. Ia menegaskan selama ini tidak pernah ada petugas RT, RW, maupun pihak kelurahan yang datang melakukan pendataan atau survei terkait pengajuan bantuan bedah rumah.
“Tidak pernah ada yang datang ke rumah untuk mengecek atau mengajukan bantuan,” tegasnya.
Kontradiksi semakin mencolok ketika awak media melakukan konfirmasi ke Dinas Perumahan dan Kawasan Permukiman (Perkim) Kota Pasuruan. Kepala Bidang Perkim, Wisnu, menjelaskan bahwa secara aturan rumah yang pernah menerima bantuan bedah rumah tetap bisa diajukan kembali setelah melewati batas waktu tertentu.
“Jika sudah lebih dari 10 tahun dari bantuan sebelumnya, rumah tersebut bisa diajukan kembali untuk mendapatkan program bedah rumah,” jelas Wisnu.
Fakta ini menimbulkan tanda tanya besar mengenai proses pendataan dan penyaluran bantuan di tingkat bawah. Di tengah program pembangunan kota yang terus dipromosikan, masih ada warga yang hidup di rumah nyaris roboh tanpa kepastian bantuan.
Kasus ini pun memicu kecurigaan publik terkait kemungkinan adanya ketidaktepatan sasaran dalam distribusi bantuan sosial. Sebagian warga bahkan mulai mempertanyakan apakah program bantuan benar-benar diberikan kepada masyarakat yang paling membutuhkan, atau justru hanya berputar pada kelompok tertentu yang memiliki kedekatan dengan aparatur setempat.
Kini, masyarakat menunggu langkah nyata dari Pemerintah Kota Pasuruan. Di balik slogan besar pembangunan kota, warga seperti Warsito berharap pemerintah tidak sekadar berbicara tentang kemajuan, tetapi juga hadir menyelamatkan rumah-rumah yang hampir runtuh sebelum benar-benar memakan korban.(Adf)

