Bonus Atlet Dipangkas, Gelombang Protes Menguat: Ayi Suhaya Turun Bersama Atlet di Kota Pasuruan

Screenshot

Pasuruan,Kabar99news.com,– Kebijakan pemangkasan bonus atlet ajang Porprov Jatim 2025 memicu gelombang kekecewaan luas di kalangan insan olahraga. Puluhan atlet berprestasi bersama elemen masyarakat menggelar aksi unjuk rasa di depan kantor Pemerintah Kota Pasuruan sebagai bentuk protes terhadap kebijakan yang dinilai tidak berpihak pada pejuang.  olahraga.Senin(02/03/2026)

Aksi tersebut diikuti berbagai unsur, mulai dari atlet, aktivis LIRA Jawa Timur, jajaran GM-FKPPI, hingga tokoh agama dan masyarakat. Mereka menilai pemotongan bonus bukan sekadar persoalan anggaran, melainkan bentuk merosotnya penghargaan terhadap prestasi daerah.

Dalam aksi itu, massa menampilkan teatrikal sebagai simbol “luka” para atlet. Beberapa peserta membawa poster dan replika papan bonus yang kemudian dibuang sebagai bentuk kekecewaan. Aksi berlangsung emosional namun tetap terkendali di bawah pengawasan aparat.

Para atlet mengaku pengurangan bonus sangat drastis dibandingkan tahun-tahun sebelumnya. Nilai penghargaan untuk peraih medali emas yang sebelumnya mencapai Rp30 juta kini turun menjadi Rp10 juta. Perak yang semula Rp20 juta menjadi Rp7,5 juta, sedangkan perunggu turun dari Rp10 juta menjadi Rp5 juta.

Menurut mereka, angka tersebut tidak mencerminkan perjuangan panjang yang telah dilalui mulai dari latihan intensif, pengorbanan biaya pribadi, hingga meninggalkan pekerjaan demi membela nama daerah.

Atlet: Kami Berjuang Bukan untuk Diabaikan Salah satu perwakilan atlet menyampaikan bahwa banyak atlet harus merogoh kocek sendiri untuk kebutuhan latihan, perlengkapan, bahkan pemulihan cedera. Mereka merasa kebijakan ini seolah menutup mata terhadap realitas perjuangan di lapangan.

“Prestasi itu tidak datang tiba-tiba. Ada proses panjang, ada pengorbanan keluarga, tenaga, dan waktu. Tapi ketika berhasil, penghargaan justru berkurang. Ini yang membuat kami merasa tidak dihargai,” ungkapnya.

Kekecewaan bahkan sempat viral di media sosial ketika sejumlah atlet menolak bonus secara simbolis saat penyerahan di GOR beberapa waktu lalu.

Dalam orasinya, Ayi Suhaya yang juga menjabat Ketua GM-FKPPI menyampaikan kritik keras terhadap kebijakan tersebut. Ia menilai pemerintah daerah kehilangan sensitivitas terhadap masa depan olahraga.

Ia bahkan mengirimkan karangan bunga sebagai simbol duka atas apa yang disebutnya “matinya kepedulian terhadap atlet”. Menurutnya, pemerintah seharusnya hadir memberi motivasi, bukan justru melemahkan semangat mereka yang telah mengharumkan nama kota.

“Olahraga itu investasi prestasi, bukan beban anggaran. Kalau atlet tidak dihargai, bagaimana kita bicara masa depan?” tegasnya.

Pimpinan Tak Hadir, Massa Kecewa Dalam aksi tersebut, massa tidak ditemui langsung oleh kepala daerah maupun pejabat tertinggi lainnya. Aspirasi hanya diterima perwakilan instansi, kondisi yang semakin memicu kekecewaan peserta aksi karena merasa tidak mendapat ruang dialog terbuka.

Situasi ini menimbulkan pertanyaan publik mengenai komitmen pemerintah dalam membangun ekosistem olahraga yang berkelanjutan.

Sejumlah pemerhati olahraga menilai polemik ini dapat berdampak serius terhadap regenerasi atlet. Minimnya penghargaan dikhawatirkan membuat generasi muda enggan menekuni dunia olahraga karena merasa masa depannya tidak terjamin.

Sementara itu, KONI Kota Pasuruan didorong untuk segera menjembatani komunikasi antara atlet dan pemerintah agar persoalan tidak berlarut-larut.

Aksi ini menjadi peringatan bahwa prestasi bukan hanya soal medali, tetapi juga tentang bagaimana daerah menghargai mereka yang telah berjuang membawa nama kota ke panggung kehormatan. Jika tidak segera disikapi, bukan tidak mungkin semangat olahraga daerah akan meredup bukan karena kalah bertanding, tetapi karena merasa tak lagi dihargai.(Adf)

Leave a Reply